Seseorang bertanya pada saya, benarkah jumlah gereja kian hari kian bertambah? saya menyawab, "secara kuantitas mungkin hanya gedungnya yang bertambah sedangkan manusianya itu-itu saja, jika bertambah tidak terlalu banyak. tetapi segi kualitas mungkin benar bahwa gereja bertambah, karena banyak yang mengaku sebagai gereja akhirnya benar-benar menjadi gereja. " mengapa saya menjawab demikian? sebab ketika bicara tentang gereja, kita lebih bicara tentang memiliki gereja, daripada hidup sebagai GEREJA TUHAN.
Dalam bukunya tetang Gereja yang Hidup, DAVID R. RAY menyebutkan bahwa kepemimpinan, kasih ibadah dan kotmitmen adalah pokok penting. karena itu secara khusus ia membahas bagaimana setiap elemen itu dapat dibentuk dan bertumbuh dalam ibadah-ibadah yang dilakukan oleh jemaat. Yang menarik dalam buku ini, penulis tidak menyinggung gereja yang bersandar pada dana, fasilitas, peralatan moderen dan sebagainya. Gereja adalah persoalan relasi manusia dengan TUHAN dan sesamanya, sedangkan hal lainya tidak boleh jadi penghambat.
Gereja benar-benar hidup jika ditandai dengan relasi yang hangat dan akrab. Setiap orang dapat menjadi teman bagi sesamanya, merayakan tawa dan tangis bersama dalam ibadah syukur yang spesial, mempunyai aktivitas yang disukai bersama, tempat untuk menemukan dan menyanyikan lagu kesukaan tiap orang secara bersama, komunitas yang nyaman untuk berbagi kelemahan dan kisah pribadi atau keluarga tanpa takut dicelah, bergumul dalam firman TUHAN dengan semangat yang tinggi, ada penerimaan apa adanya, semua orang bsa menjadi merasa berarti dan menemukan (menyadari) talentanya, senang berdoa bagi sesama dalam ibadah maupun dalam doa pribadi, ibadah tidak berfokus pada pameran atau sebuah pertunjukan yang membuat jemaat pulang dengan berdecak kagum, melainkan mereka pulang dengan perasaan dipulihkan, diterima, diperlengkapi dan dipanggil dalam perjumpaan yang indah dengan TUHAN YESUS. sebab itu, jangan tanya apakah gereja sudah melayani saya, melainkan apakah saya sudah menjadi gereja yang bersaksi dan melayani TUHAN dan sesama?





0 comments:
Post a Comment